Home > Berita Biopori > Alat Lubang Resapan Biopori Didaftarkan Paten

Alat Lubang Resapan Biopori Didaftarkan Paten

Alat Lubang Resapan Biopori Didaftarkan Paten
Kamis, 31 januari 2008 | 02:40 WIB

Jakarta, Kompas – Institut Pertanian Bogor saat ini menempuh proses
mendapatkan paten untuk peralatan lubang resapan biopori yang diciptakan
Kamir R Brata, pengajar pada Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan,
Fakultas Pertanian, pada perguruan tinggi tersebut.

Namun, Kamir tidak menghendaki proses itu nantinya justru menghambat
masyarakat untuk memproduksi sendiri peralatan tersebut.

“Sejak awal menemukan peralatan lubang resapan biopori beberapa tahun lalu,
saya memang tidak menghendaki patennya. Tetapi, sekarang institusi saya
ingin mematenkan alat ini dengan maksud agar masyarakat mengetahui dasar
pemikiran yang dilahirkan akademisi,” kata Kamir, Rabu (30/1) di Bogor.

Kamir menjelaskan, lubang resapan biopori di dalam tanah itu menuntut
perlakuan dengan pengisian sampah organik ke dalamnya. Sampah-sampah organik
itu nantinya akan diuraikan mikroorganisme di dalam tanah.

Organisme itu pun akan membuka pori-pori tanah yang bermanfaat untuk
menyerap air.

*15 manfaat*

Dia mengatakan, sedikitnya ada 15 manfaat dari pembuatan lubang resapan
biopori dengan diameter 10-20 sentimeter dan kedalaman 100 sentimeter itu.

Manfaat tersebut meliputi manfaat penampungan sampah organik, menjaga
keanekaragaman hayati dalam tanah, menyuburkan tanah, mendukung penghijauan,
serta mengurangi emisi gas rumah kaca akibat pelapukan bahan organik.

Kemudian dari aspek sanitasi, untuk menjaga kebersihan akibat daun yang
dipangkas atau berguguran, mencegah polusi udara, berfungsi meresapkan air
lebih optimal.

Jika biopori tersebut dilakukan secara masif oleh masyarakat, lubang resapan
biopori juga akan mampu mencegah banjir dan genangan.

Manfaat lain biopori adalah meningkatkan cadangan air dalam tanah, mencegah
keamblasan tanah, menghambat intrusi air laut, dan mengurangi pencemaran
air.

“Alat pelubang resapan biopori ini terlalu sederhana sehingga sering
dianggap tidak menarik. Tetapi, biopori memang bertujuan untuk
menyederhanakan ilmu-ilmu yang terkait tanah,” kata Kamir.

Baik ilmuwan maupun masyarakat awam, menurut Kamir, saat ini mengabaikan
adanya kehidupan di dalam tanah yang suatu saat pasti berdampak pada
kerusakan tanah.

Keanekaragaman hayati di dalam tanah juga jarang diteliti sehingga
kelestariannya tidak pernah dijaga. (NAW)

http://groups.yahoo.com/group/lingkungan/message/34990

Categories: Berita Biopori
Comments are closed.